Monday, June 16, 2008

Kredit?

Sungguh lucu sekaligus memprihatinkan mendengar pengalaman ayah minggu lalu ketika hendak membeli sepeda motor buat adik saya.

Betapa tidak, ketika hendak membeli Mio, mereka dijanjikan sepeda motor baru bisa dikirim satu minggu kemudian, jadi mereka harus inden. Padahal di dealer tersebut, stok motor Mio masih ada banyak. Ketika di tanya kenapa harus inden? bukankah stock nya ada. Ternyata mereka malah diberi tawaran lain, ayah bisa langsung bawa pulang motor asal belinya secara kredit.

Jengkel juga ayahku waktu itu, tapi ya sudah lah, untung ayahku tetap menjalankan prinsip anti hutangnya, mending saya tunggu tuh motor satu minggu daripada harus kredit. kata ayahku agak jengkel. "Bapak ya ndak mau tho Le, suruh kredit, mosok suruh bayar bunga, wong punya uang kok, dasar pemerasan" kata ayah. Pikir-pikir kenapa ayah tidak pindah dealer saja ya? ah mungkin dimana-mana sama saja kali. Jadi, kesimpulannya, jaman sekarang, beli kredit ternyata lebih mudah dan menyenangkan dibandingkan jika mereka beli secara tunai. Wealah dasar jaman edan. Orang mau cash kok disuruh hutang.

Tapi jaman sekarang, apa sih yang tidak bisa dikredit, semua bisa dikredit. Sumbu kompor saja bisa dikredit. Proses cepat, satu jam barang bisa dibawa pulang ... begitu kan iklan-iklan yang ada di berbagai perempatan jalan. Tiap kali pulang kerja saja, di bawah pintu rumah kami sering terselip berbagai brosus tawaran kredit. menggiurkan memang tapi nyicilnya? kurang bijak kita bisa tercekik-cekik.

Jadi ingat tayangan salah satu episode sitkom "Suami-suami Takut istri" ketika para istri minta dibuatkan kartu kredit, hingga membuat para suami pusing tujuh keliling. Beruntung para suami bisa tetap tegar, untuk tidak mengabulkan keinginan para istri mereka. He..he..he gimana tidak bisa tegas, kalau sudah urusan hutang mah sudah menyangkut stabilitas rumah tangga, jadi bagaimanapun takutnya mereka sama istri, ya mereka harus menang kali ini tho. salut deh buat para suami.

Punya kartu kredit memang sebuah beban, apalagi kalau pendapatan kita masih belum mapan. Bagi yang penghasilannya sudah mapan sih lain perkara, selain dengan alasan keamanan, punya kartu kredit justru memudahkan mereka dalam bertransaksi. Kartu kredit memang bisa berguna ketika kita memiliki kebutuhan mendadak yang bersifat “urgent” saat kita tidak memiliki cukup uang. Jadi kita tetap bisa memenuhi kebutuhan tersebut dan pembayarannya belakangan, bahkan bayarnya bisa dicicil. Tapi terlepas dari hal - hal di atas, prinsip kartu kredit adalah hutang harus betul-betul kita sadari. Apalagi jika mengingat permainan para penerbit kartu kredit yang suka seenak udelnya membuat berbagai persyaratan dan paket yang suka membingungkan dan terasa menjerat pihak pemegang kartu. Memang sengaja dibuat seperti itu sebab semakin baik kita menyelesaikan tagihan kartu kredit, itu berarti semakin sedikit perusahaan ini mendapatkan untung. Jika tidak peka, bisa-bisa kita menjadi penghutang sepanjang sisa hidup. Jadi waspadalah! waspadalah!

Bicara kredit-kreditan, setidaknya sampai saat ini saya dan istri masih menjalankan wejangan orang tua kami ketika kami berdua menikah dulu. Orang tua kami berpesan:
1. Sebisa mungkin kalian jangan behutang. jangan mudah ambil kreditan ini-itu, apalagi untuk barang-barang yang bersifat konsumtif, kecuali kredit rumah.
2. Belajarlah menikmati apa yang ada, belajar mencukupkan diri dengan apa yang dimiliki.
3. Sebisa mungkin penghasilan kalian disisihkan untuk ditabung.

Tiga hal itu masih kami pegang sampai saat ini. Dan hasilnya? sampai sekarang, setidaknya rumah kami masih terlihat lapang dan luas karena sepi perabot dan barang-barang. Maklum, untuk melengkapi perkakas rumah kami harus nyicil pelan-pelan gara-gara sepakat tidak mau ambil barang kreditan. Jendela rumah saja masih sebagian yang sudah dipasangi kain korden. Sebagian sisanya masih kami tutupi dengan poster film, peninggalan hiasan kamar kos waktu saya masih kuliah dulu. baru ada meja kursi tamu, satu almari pakaian dan meja makan warisan ortu doang. Di depan rumah cuma dihiasi beberapa pot tanaman hias hasil stekan sendiri yang entah bisa bertahan hidup apa tidak. Tapi kalau bisa tumbuh asik tuh, bisa bikin asri rumah kami.

Wah.. coba dulu bapak simbok wanti-wantinya seperti ini "Le, ambil saja barang kreditan ... ndak papa, nanti bapak sama simbok bantu nyicilnya", wah asik tuh, pasti lain ceritanya. Bah, bercandan kau, gengsi dong! :)

Apalagi sekarang BBM sudah naik, apa-apa ikut naik. Membuat kami mulai melirik perabot bekas sebagai alternatif. Tidak apa lah bekas, tinggal sedikit permak sana-sini bisa kelihatan baru. Anggap saja barang kuno. Toh antara bekas dan kuno cuma beda tipis he...he...he.. (dasar ndak gableg duwit). Maklum lah mo demo kenaikan gaji, kasihan sama bos yang masih pusing cari proyek baru. Ah tidak mengapa kami toh tetap bisa menikmatinya. Tapi kalau barang elektronik kami tidak mau yang bekas ah bukannya gengsi tapi kalau barang elektronik kan susah lihat kualitasnya apa masih bagus apa tidak. Pengalaman beli hp secound, belum 3 bulan sudah mamfuz.

Tapi ada pengalaman lucu, bukan soal barang secound, tapi mengenai kredit barang elektronik. Ada sih yang ambil kredit hp waktu itu, hp mahal memang, tapi belum dua bulan nyicil, ternyata harga baru hp tersebut turun draktis. Wah, dasar nasib-nasib coba dia mau sabar sedikit dia bisa beli itu hp tanpa kredit. dasar sial dia akhirnya harus bayar harga barang hampir dua kali lipat deh. Beli barang elektronik mah jangan dikredit Mas/Mbak tapi di tunggu sebentar, paling 4- 6 bulan kemudian, atau pas muncul produk baru pasti deh harganya turun. Jadi modalnya sabar saja.

Kembali ke masalah hidup tanpa kredit nih, pengalaman saya sih bisa dibilang gampang-gampang susah memang. Kadang panas juga jika mendengar sindiran para tetangga. Pernah ada yang main ke rumah sama anaknya, trus anaknya dengan polosnya bertanya, "om... kok ngak punya kulkas, ngak punya TV, kerumah saya saja om ada tv nya". Lihat ibunya senyum-senyum keki juga saya dibuatnya. Untung istri saya bisa menimpali "Iya om sama tante sedang nabung buat beli kulkas sama tv tuh", katanya. sering sih kalimat-kalimat sindiran muncul, entah memang benar sindiran atau kami yang jadi terlalu sensitif. Ya, begitulah, maklum, tinggal di kompleks perumahan, selain dana sosialnya tinggi, mulai dari dana arisan PKK ibu-ibu yang tidak jelas manfaatnya, iuran RT, dst, hawa persaingannya juga cukup tinggi baik langsung maupun tidak langsung. Saling pamer, biasa lah. makanya bagi yang tidak kuat, atau ndableg (cuek bebek) bisa stress Mas/Mbak.

Menanggapi keadaan seperti itu, saya dan istri sepakat untuk berusaha menampilkan apa adanya kami. Memang dampaknya keberadaan kami suka diremehkan. Awalnya sulit juga, tapi lama-lama kami jadi terbiasa. Terbiasa tidak dianggap, terbiasa untuk tidak masuk hitungan. Dan akhirnya kami justru bisa menikmati enaknya jadi orang-orang remeh nan biasa, kami jadi jauh dari target sasaran mereka-mereka yang suka meminjam uang. Jadi terhindar dari keadaan serba salah jika ada tetangga yang pinjam uang, atau dari keadaan tidak enak jika harus menagih hutang yang lupa dikembalikan. Karena jauh dari lampu sorot, dan tidak ada yang merasa kami saingi, atau terancam oleh keberadaan kami, membuat kami jadi luwes dan nyaman untuk bergaul bergerak mana suka.

Yang penting kami bisa menikmati hidup tenteram tanpa hutang. Tiap bulan kami bisa terima gaji utuh tanpa potongan.

Dan ketika hati mulai gundah, dan hasrat untuk ambil krediatan mulai mengusik jiwa ( weleh puitis banget ya) Kami tinggal kembali ke Laptop, eh maksut saya kembali ke Alkitab.

Apa kata Alkitab Mas? atau apa kata Alkitab Dhik?

Dan Alkitab menjawab:

"Jangan kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barang siapa mengasihi sesamanya manusia, dia sudah memenuhi hukum Taurat." (ITB - Roma 13:8)

Ah, di pas-pasin deh ayatnya. Harap maklum, saya bukan lulusan Teologia Mas/Mbak. Kalau ayatnya ndak nyambung ya maaf saja. Soalnya jujur memang saya pas-pasin saja kok ayatnya, tapi bukannya tanpa riset, saya sempat riset cari-cari di internet, swer deh ;) saya ndak boong. Memang sih Alkitab tidak secara eksplisit melarang atau mengijinkan kita meminjam uang. Tapi hikmat dari ayat Alkitab di atas mengajar kami berdua bahwa pada umumnya tidak baik untuk berhutang. Sebab hutang berpotensi membuat kami jadi budak dari orang yang memberi kita hutang.

Jadi, semoga kami berdua tetap bisa terus saling mengingatkan ...
Atau semoga kami berdua tetap bisa bertahan ...
Tapi yang paling penting, semoga kami berdua bisa merubah nasib, setidaknya sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kali, kami sudah bisa beli tv flat, satu set perangkat audio, komputer, mobil, dispenser, kulkas, home theatre ... weleh kok jadi matre dan tampak sangat duniawi begini ya? memangnya waktu Tuhan datang, barang-barang itu bisa ikut terangkut? wek... kek... kek... kek...

Namanya juga usaha, amin ... AMIN dah ...

5 comments:

Itung2 latihan pengendalian diri, apalagi hidup udah susah, eeeeh, masa mau ditambah susah mikirin utang? :P

Lamo tak jumpo uda Rusdy ...
Betul lah itu,
Beli duku sekalian jeruk bali.
Masuk ke keranjang jangan lupa di pisah.
hidup cuma sekali
jangan dibikin susah.

tapi kita harus ingat, ketika orang ingin mengembangkan hidup,
diam aja sambil berdoa ???
kredit dapat kita gunakan untuk mengubah hidup, dijaman skarang kita harus berani berspekulasi, ga bisa kalo hanya "njagake" yang justru melemahkan kita sendiri. Dimanapun pengusaha ga anti hutang. Yang terutama sebenarnya bagaimana kita bisa me manage kredit tersebut.

Waduh Mas Bejo, piye kabarnya?
Gini hlo Mas, yang saya tekankan itu masalah kredit untuk kepentingan konsumsi.

Saya sih setuju saja sepanjang kredit/hutang selama itu untuk kepentingan produktif/usaha.

kalau untuk usaha memang harus berani spekulatifnya. Tapi kalau untuk urusan konsumtif, kredit itu namanya pemborosan. He...he...he...

maaf jika isi pesan berikut mengganggu aktivitas kamu.. aku cuma mau kasih tau aja, ada sebuah situs social bookmarking yang berisi kumpulan berita-berita menarik yang paling update diseluruh indonesia,dan memang situs ini berbasis bahasa indonesia... klo nggak keberatan tolong cek situs ini yah.. semoga bermanfaat..

>>> http://www.lintasberita.com

coba di share aja semua tulisan km di situs itu ,mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini ,keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita's widget?? cek disini aja yah

>>> http://www.lintasberita.com/tools.php

thanks.... sory klo keliatannya spamming.. but seriously... im just helping you out here...