Antara Aku, Lembur dan CD SABDA
Saya masih ingat waktu itu hari Jumat, seusai jam istirahat siang di kantor YLSA. Ketika itu saya masih bekerja di divisi WEB YLSA. Jadi sebenarnya tidak terkait langsung dengan pembuatan CD SABDA. Itu sih pekerjaan teman-teman di divisi software pimpinan Mas Daniel. Namun kebetulan CD SABDA versi terbaru sudah memasuki tahap akhir, dari target waktu pengerjaan. Dan hari ini harus sudah selesai sebab esok hari, sebelum jam 12 siang harus sudah masuk ke tahap burning. Keterlibatan saya sendiri dalam pembuatan CD SABDA, karena kebetulan di versi yang baru tersebut, YLSA hendak menyertakan versi offline dari seluruh website yang dimilikinya, mulai dari SABDA.org, PEPAK, C3I dll sebagai salah satu supplement CD SABDA, maka jadilah saya kebagian tugas untuk mengerjakannya.
“Apa? Harus selesai hari ini?” itu reaksi spontan saya waktu itu. Ah, alamat lembur nih. Agak disayangkan memang, karena pendelegasian yang terlalu mendadak dan mepet itu. Bukan apa-apa, saya cuma kuwatir, jika dikerjakan terburu-buru, hasilnya tidak bisa maksimal. Tapi tugas adalah tugas. Jadilah kami lembur hari itu. Meskipun tidak semua ikut lembur, hanya sebagian dari kami saja. Jadi have a nice weekend buat yang lain. Maklum hari itu hari Jumat, dan Sabtu kami libur. Perkiraan sih akan selesai paling lama sampai jam tujuh malam. Tapi apa daya jika ternyata perkiraan kami meleset jauh.
“Oks, lets do it!” Langkah pertama, saya mulai dengan mendaftar semua website yang ingin di offlinekan. Saya ambil dari server local kami. Jumlahnya ada sekitar 10 lebih, saya sudah lupa. Setelah itu, dilanjutkan dengan mencek semua link yang ada untuk memastikan tidak ada broken link yang ditemukan. Jadi apakah cek satu persatu link yang ada? Tentu tidak. Kerja manual haram hukumnya Mas! Kebetulan di kantor ada software Linkboot yang cukup mumpuni untuk mencek link secara otomatis dan cepat. Tidak sampai 2 jam semua website akhirnya selesai dicek. Tugas berikutnya adalah memperbaiki beberapa broken link yang ditemukan. Nah bagian ini yang mau tidak mau harus dengan cara manual. Satu demi satu masalah diperbaiki sesuai kasusnya masing-masing, dan ternyata memakan waktu yang cukup lama. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Sepertinya target waktu akan meleset. “Semoga tidak sampai larut malam”, pikirku. Dan kelihatanya semua memang sudah diperbaiki. Jadi saya cek sekali lagi dengan linkboot, sebelum masuk ke proses offline itu sendiri. Okey perfect no broken link found.
Tahap selanjutnya adalah proses offline. Waktu itu kami menggunakan program TeleportPro. Satu-demi satu website kami offlinekan hingga seluruhnya selesai. Jam hampir menunjukkan pukul 20. Tinggal mencek hasil TeleportPro. “Ah semoga jam 21 bisa kelar”, pikirku. Tapi …. Ternyata … alamak ada error, bukan satu atau dua, dari hasil TeleportPro hampir semua link mengalami error. Aduh! Kiamat. Apa lagi yang salah ya?. Tenang, tenang, ambil nafas … keluarkan. Saya coba telusuri apa penyebabnya. Setelah saya cek, ternyata kerusakan diakibatkan oleh character tententu yang salah diterjemahkan oleh TeleportPro, dan akibatnya fatal. Huh… bagaimana ini? Saya mulai uring-uringan lagi. Kalau harus diperbaiki satu persatu bisa dua hari tidak tidur. Padahal rencana malam ini harus selesai dan besok tinggal masuk ke proses burning. Gimana dong Bos???
Kami akhirnya berdiskusi, mencari cara untuk menyelesaikannya. Kami lihat data mentah hasil proses terakhir tadi. Berharap bisa menemukan pola kesalahannya. Selama ada pola yang jelas, maka kami bisa menemukan logika penyelesaiannya. Syukur-syukur bisa dibuat script program untuk menyelesaikannya dengan lebih cepat. Akhirnya sedikit demi sedikit pola itu terlihat, meskipun tidak terlalu teratur. Sehingga kami masih harus memodifikasi data-data tersebut untuk menyeragamkan pola. Sekali lagi semua itu harus dilakukan dengan cara smart menggunakan UltraEdit. Salah satu software olah data yang biasa kami gunakan di kantor. Menjalankan beberapa perintah search, find, and replace hingga akhirnya selesai. Segera saya berikan data-data tersebut ke Mas Daniel untuk diolah lebih lanjut, dia yang lebih expert dengan Regex. Mas D mulai menyisipkan tag-tag tertentu, baris demi baris. Tag itu nantinya menjadi semacam Flag yang akan memudahkan saya mengolah data itu lebih lanjut. Ah beruntung ada Mas D, tugas saya menjadi lebih ringan. Dan juga Mark, dia sangat membantu saya memberikan panduan untuk menciptakan macro sederhana menggunakan UltraEdit. Program macro itulah yang kemudian menyelesaikan sisa pekerjaan kami memperbaiki error secara otomatis. Saya jadi semakin jatuh cinta saja dengan UltraEdit. Sudah sejak masuk bekerja di YLSA, saya menjadi terbiasa dengan UltraEdit dan TotalCommander. Bukan hanya saya, kami semua biasa memakainya. Saking terbiasanya, hingga dua software ini, seakan menjadi software wajib anak-anak YLSA. Jadi jika kebetulan kalian menemukan kedua software tersebut terinstall di PC atau laptop teman kalian, coba tanyakan, siapa tahu dia salah seorang alumni YLSA. Itu adalah ciri kami he..he..he.. kami sudah menjadi terlalu terbiasa dengan kedua software tersebut. Bahkan di tempat kerja yang baru kami masih setia menggunakannya. Gara-gara sering merasa aneh, jika harus kembali menggunakan File Exploler bawaan Windows. Jadi kagog gitu :-P
Kembali ke pekerjaan. Tak terasa malam semakin larut. Jam 9 sudah lewat, bahkan hampir jam 10 malam, padahal baru separoh pekerjaan yang berhasil terselesaikan. Sadrah sudah siap-siap pulang. Dia mendapat bagian membuat User Interface dan autorun untuk CD SABDA dan kelihatannya sudah selesai. Karena bagian saya masih banyak, jadi tidak bisa ikut pulang, dan terpasak telpon ke rumah ijin malam itu tidak pulang, menginap di kantor. Sekitar jam 10 malam, beberapa teman yang lain juga memutuskan untuk pulang karena bagian mereka juga sudah selesai. Besok pagi mereka akan kembali datang. Hanya tinggal beberapa orang saja yang stay at office. Kalau tidak salah hanya tinggal aku, Puji, Mbak Endah dan Mas Daniel yang masih tinggal menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Bu Yulia sudah menyiapkan berlengkapan tidur buat kami. Siapa tahu kami kecapean dan ingin tidur barang sejenak.
Malam semakin sepi, hening, masing-masing kami tenggelam dalam pekerjaan, hanya kopi hangat yang menemani kami. Menit demi menit, jam demi jam. Tanpa terfasa sudah jam 1 malam lebih, hampir jam 2 malam. Mengantuk? Ya itu pasti, tidak Cuma mata yang berat, kepala juga mulai pusing, perut kembung kebanyakan minum he .. he… he… Puji masih setia di mejanya. Ngak tidur Put? Ah tanggung katanya. Saat aku lirik ke belakang, Mas Daniel kelihatannya juga masih begadang. Sedang Mbak Endah … hi … hi… hi … kasihan dia, jangan sampai tubuhnya yang kurus menjadi semakin kurus karena kurang tidur. Yah … seandainya kalian sempat membaca tulisan ini aku mo ucapin “Salut!” buat kalian. Senang rasanya kita sempat berjuang bersama, begadang-bersama, tapi pulang sendiri-sendiri. ;-)
Sebentar bunyi azan terdengar, tanda hari sudah menjelang subuh, ketika akhirnya pekerjaan itu selesai. Mau pulang tanggung, mending jalan-jalan dulu cari bubur ayam sekalian meluruskan kaki yang terasa pegal, dan menghangatkan perut biar tidak masuk angina. Jadi… aku ajak Puji, “Ayo Put, Mbak Endah ikut juga ya?” Kalau Mas Daniel? Sepertinya dia masih tetap setia nempel di kursinya deh. Benar tidak sih? Saya sudah lupa. “Benar ndak Mas?” Selesai jalan-jalan pagi, kami kembali lagi ke kantor, menyerahkan semua tugas ke Bos, kemudian sayapun meluncur pulang.
Cerita selanjutnya, saya tidak tahu. Sudah keasikan sama bantal guling di kamar. Tapi konon… menurut kabar dan isu yang beredar, desas desus … ternyata pekerjaan kemarin malam masih ada yang kurang, masih ada yang perlu diganti dan ditambahkan. Hingga hampir-hampir CD SABDA gagal masuk ke proses burning hari itu. Ngak tahu lah saya sudah terlalu asik terbuai mimpi indah. Coba Tanya ke Mas Daniel atau Hardono, soalnya mereka yang ada waktu itu. Waktu Bos marah-marah. Waktu Hardono kebingungan ketika ditanya soal website yang aku offlinkan. Soal … nggak tahu lah, emosi memang sudah pada tinggi, maklum kurang tidur, kurang istirahat.
Tapi yang jelas berkat Tuhan saja bila akhirnya CD SABDA berhasil direlease. Beberapa minggu berikutnya, saat melihat CD SABDA itu dibawa ke kantor lengkap dengan cover dan segala aksesorisnya, seperti terbayar sudah bulan demi bulan, tahun demi tahun perjuangan kami. Lelah dan capek itu hilang, lunas terbayar sudah. Saat itu, giliran bagian administrasi yang sibuk. Sibuk mendata penerima, sibuk mendata donator, dan sibuk-sibuk yang lain. Selamat pusing Mbak Ely, he … he…he …
Malam ini, ketika saya kembali mecoba menuliskannya, saya ingat hari itu, salah satu hari terberat selama saya bekerja di YLSA. Yang terpenting sekarang adalah “Apa yang bisa dipelajari dari peristiwa ini?” he he he itu adalah pertanyaan standar dan wajib yang sering ditanyakan di kantor kami. “Apa yang bisa dipelajari?” hingga ketika berguraupun pertanyaan itu sering terlontar. “Apa yang bisa dipelajari?” Setidaknya ada beberapa hal:
1. Tekun bekerja itu baik, tapi belum cukup. Usahakan bekerjalah dengan lebih Smart. Bekerja dengan lebih smart berarti bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Menggunakan semua sumber daya yang ada semaksimal mungkin. Bertanya dan cari referensi. Seperti ketika saya menemukan, ternyata software yang selama ini sering kami pakai masih dapat dimaksimalkan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bahkan saya belum pernah membayangkannya. Jadi berekplorasilah dan terus mencoba hal-hal baru. Berfikir inovatif dan creative dalam pekerjaan itu penting.
2. Bekerja memberi yang terbaik ternyata tidak mudah. Ya! Tidak semudah mengucapkannya. Apalagi ketika harus berbenturan dengan kebutuhan kita, atau ketika kita berada dibawah situasi yang menekan. Saya ingat, hari itu sempat beberapa kali saya mengeluh, ingin menyudahi saja. Atau ingin mengerjakan asal jadi saja. Tapi Dalam hati selalu tergiang “Persembahkan itu untuk Tuhan” dan saya yakin itulah yang memberi saya kekuatan hingga tidak sampai menyerah. Tapi saya akui bahwa tidak selamanya “Memberi yang terbaik” itu mudah untuk dilakukan. Tapi itu harus selalu diperjuangkan. Sebab itu akan membedakan kita dengan orang lain.
Itulah sekelumit pengalamanku terlibat dalam proyek CD SABDA. Padahal hanya semalam. Tak terbayangkan apa yang dirasakan oleh Mas Daniel, Albert, dan teman-teman di divisi Software yang bertahun-tahun mengerjakannya. “Tapi yakin saja bahwa di dalam Tuhan, hasil jerih payah kalian tidak akan sia-sia”. Tapi ngomong-ngomong sekarang CD SABDA sudah versi berapa ya?
Wednesday, September 30, 2009
Satu Waktu di Hari Jumat
Posted by
k. novianto
at
7:48 PM
3
comments
Links to this post
Labels: My Stories
Tuesday, May 12, 2009
Antara Facebook, Pazel dan Aku
Akhirnya kesampaian juga memiliki Facebook. Tidak lama aku membuatnya, saya dikejutkan dengan betapa cepatnya saya bisa menemukan dan terhubung dengan teman-teman lama saya. Bukan hanya teman kuliah tapi juga teman sewaktu di SMA, SMP bahkan SD. Waow ... beda jauh dengan friendster.
Senang sekali bisa menyambung tali silaturahmi yang lama terputus. Melihat kehidupan mereka sekarang, keberhasilan mereka, semua bisa jelas terlihat dari foto-foto yang mereka pasang. Heran, haru, kaget semua perasaan campur aduk dalam benakku. banyak yang telah berubah. Teman-temanku yang dulu kelihatan biasa-biasa saja, ternyata sekarang sudah berhasil dan sukses.
Ah, dihati sempat terbersit rasa iri. kenapa aku tidak bisa seperti mereka. Senyuman yang tersungging di wajah-wajah mereka seakan mengejekku, menyebalkan! Lalu pikiran mulai berandai-andai. seharusnya aku dulu begini, seharusnya aku memilih ini dan kalau saja .... mungkin ... STOP!!!
Stop sudah, hidup tidak boleh disesali. Kenapa aku membiarkan diriku disiksa perasaan iri? Bersyukur, ya masih banyak yang bisa aku syukuri dan hidupku toh bukan tanpa arti. Lalu aku mulai mnghitung berkat-Nya satu persatu. Setidaknya masih ada rumah yang menaungi, ada pekerjaan yang masih mencukupi dan ada istri yang selalu setia menyertai? jadi apa lagi yang kurang? dan pelan-pelan rasa iri itupun sirna. Aku mulai bisa melihat senyuman mereka dengan gembira, dan ikut merasa berbahagia. Satu demi satu kubuka foto-foto mereka, mencoba menyapa. Tanpa ada beban, hanya kegembiraan. "hi.. apa kabar? nice to meet u ..."
Hidup memang seperti pazel. Begitu yang Mas Daniel pernah bilang. Ya seperti sebuah pazel yang besar, yang sedang kita susun satu persatu. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa nantinya. kita hanya bisa menduga melalui sebagian pazel yang sudah tersusun. Tapi masih banyak pazel yang perlu ditempelkan untuk menyelesaikannya. Dan apa yang kita kira, bisa jadi salah. Hanya Perancang Agung itu saja yang tahu.
Terkadang, kita kurang sabar menunggu pazel berikutnya dan mencoba mengambil pazel yang bukan bagian kita. kita coba terus memasang nya, satu ... dua... tiga ... terus dan terus hingga kita sadar, pazel pazel tersebut justru merusak susunan yang telah ditentukan. Dan kita harus merobaknya kembali, memulai lagi. tapi itulah kita, temasuk aku juga. :)
Kembali aku melihat halaman-halaman facebook, menikmati teman-temanku yang sedang menyusun pazel hidup mereka. Aku sendiri juga sedang menyusunnya. Mencoba bersabar menikmatinya. dan berharap jika nanti gambar besar itu lengkap sudah, setidaknya masih ada sedikit waktu bagiku untuk menikmatinya dan bersyukur melihat kisah hidupku di akhir perjalanan.
Posted by
k. novianto
at
1:27 AM
1 comments
Links to this post
Labels: My Stories
Bebas dari Keterbatasan
Aku ingat hari itu, ketika baru satu minggu aku bekerja di tempat yang baru, di Salatiga. Pagi-pagi aku dan Hardono dipanggil bos untuk membicarakan proyek baru. Sebuah proyek pengembangan website yang cukup besar.
Betapa terkejutnya aku ketika Pak Paul menanyakan siapa yang mau menjadi project leadernya. Dan serta merta semua yang ada diruangan menunjuk dan menyebut namaku. Ah aku masih tidak percaya. Sebab aku masih baru di situ. Mana mungkin aku akan di tunjuk. Jadi aku santai saja menanggapinya. Ya aku memang paling tidak suka dengan beban tanggung jawab. Inginya yang aman-aman saja lah. takut kenapa napa, takut gagal, takut dimarahi, takut ini dan itu.
Tapi ... tiba-tiba saja bos melemparkan pertanyaan kepadaku, "Novi, kamu sanggup?". Mendengar itu tubuhku langsung lemas. Mana berani aku mengambil tanggungjawab sebesar itu, padahal aku belm memiliki pengalaman. bagaimana bos ini, kok malah percaya sama anak baru? Jangankan menjadi project leader, jadi programer PHP saja aku masih level young programmer gini.
Di satu sisi aku ingin menolak. Tapi aku juga sadar bahwa ini adalah kesempatan. dan kesempatan jarang datang untuk kedua kali. Aku harus berani mendorong diriku sendiri. Aku harus berani keluar dari zona nyaman. Setidaknya tugas ini bisa memaksaku untuk maju dan berkembang. Jadi akhirnya aku menyanggupinya. Yah meski dengan perasaan yang tidak karuan, badan lemas pikiran cemas. "Tuhan tolong... dalam hati aku memohon kekuatan".
Hari itu juga saya mulai menyusun team. Hardono (programmer), Effendi (administrator) dan saya sendiri yang haus merangkap sebagai webdesigner dan programmer. Sebenarnya masih ada Heru dan Theo. tapi mereka masih fokus mengurus aplikasi untuk International School di Salatiga. Jadi meskipun bisa diminta bantuannya, tapi tidak bisa banyak terlibat. Beruntung tidak lama kemudian masuk satu orang baru yang expert di database. Namanya Ronald. Sebelum bergabung dengan kami, dulu pernah bekerja di salatiga Camp. Akhirnya dia masuk memperkuat team mengurusi database.
Waktu berjalan, banyak kendala yang kami hadapi. Kurang tidur itu biasa. Bahkan sering terbawa mimpi. Mimpi mengurus kerjaan, mimpi pusing memikirkan script program dll. Aplikasi web yang kami harus selesaikan memang sulit. setiap kali mengingat deadline aku cuma bisa berdoa, Tuhan mampukanlah aku, dan hatiku pun tenang. Kami sering dihadapkan pada hal-hal baru dan pengalaman baru. Tapi kami sangat terbantu dengan adanya internet. Saya terlibat diskusi di berbagai forum. banyak masalah teselesaikan dengan bantuan para programmer di forum-forun tersebut. Ya ada om Google yang selalu siap menolong menjawab pertanyaan. Dari Ronald aku banyak belajar masalah database. Aku dan Hardono juga semakin mengerti mengenai seluk beluk pemprograman PHP, javascript dari setiap kendala yang kami hadapi. Dan akhirnya project ini berhasil terselesaikan tepat waktu.
Ah lega ... ketika aku kembali mengingatnya, aku sendiri tidak percaya bagaimana aku bisa? mungkin aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa jia aku tidak mau mencobanya. Bukan hanya proyek yang selesai, tapi aku juga mendapati diriku semakin matang dalam pemprograman. Ya, aku mendapati diriku berkembang sangat banyak. Sejak saat itu aku semakin yakin dan percaya diri. Aku mulai berani untuk mencoba mengambil resiko, dan keluar dari zona nyaman.
Jika hidup ini seperti pazzel, maka aku sudah memasang satu lagi pazzel hidupku. Aku mulai paham kenapa dulu aku harus belajar manajemen, dan bekerja di YLSA (kantor ku yang lama) sebagai web maintenance. sesuatu yang dulu aku rasa tidak ada hubungannya sama sekali, hingga aku sering merasa, apa aku sudah salah mengambil jurusan kuliah. Tapi ternyata tidak. Melalui pengalaman ini, Tuhan menunjukkan bahwa rancangan-Nya tidak pernah salah.
Sekarang aku tahu bahwa selama ini, dirikulah yang telah menciptakan keterbatasan. Ketakutannku, kecemasannku telah membatasi diriku hingga aku merasa tidak mampu, padahal sebenarnya banyak hal besar yang bisa dilakukan, bahkan hal-hal yang kita sendiri merasa tidak mampu untuk melakukannya. Aku sadar diriku perlu dipaksa, perlu dipaksa berada pada kondisi yang tidak menyenangkan. Perlu dipaksa berkompetisi. Jadi yang perlu aku lakukan hanya dengan mengatakan "ya" atau "saya akan coba", setidaknya itu akan memacu ku. Tanggungjawab, beban dan tugas pekerjaan bisa menjadi beban tapi juga bisa menjadi sarana untuk kita menjadi pribadi yang lebih mampu, lebih tangguh dan berguna. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Membebaskan diri dari keterbatasan beranikah kita? meskipun stress saya mencoba untuk berani.
Posted by
k. novianto
at
1:26 AM
0
comments
Links to this post
Labels: My Stories



